banner 728x250

Bupati Bone Hadiri Rakordal DIY yang Dibuka Mentan Amran, Dukung Penuh Hilirisasi Komoditas Pertanian

PILARMEDIA.ID — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya hilirisasi komoditas perkebunan sebagai strategi lanjutan pembangunan pertanian nasional. Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Daerah (Rakordal) Triwulan II Tahun 2025 yang digelar Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (29/7/2025).

Rakordal bertema “Penguatan Ketahanan Pangan di DIY melalui Transformasi dan Optimalisasi Lumbung Mataraman” ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Jamhari, serta Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Andi Asman menyatakan kesiapan Bone mendukung penuh program hilirisasi pertanian yang tengah digencarkan pemerintah pusat.

“Kami di daerah siap menjalankan arahan Bapak Menteri untuk memperkuat hilirisasi. Potensi komoditas Bone sangat besar, dan kami optimis bisa menjadi bagian penting dari rantai nilai industri nasional,” ujar Bupati Andi Asman dalam forum tersebut.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan bahwa setelah berhasil menjaga stok beras nasional hingga mencapai 4,2 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah—Indonesia kini harus beralih dari produsen bahan mentah menjadi negara pengolah dan pengekspor produk bernilai tambah tinggi.

“Selama ini negara lain mengolah kakao dan kopi kita, lalu mengekspornya dengan nilai puluhan kali lipat. Sekarang saatnya Indonesia memimpin hilirisasi komoditas kita sendiri,” tegas Amran di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Amran menambahkan bahwa hilirisasi bukan hanya berdampak pada peningkatan nilai ekspor, tetapi juga mendorong penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri desa, dan penguatan ekonomi lokal. Pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran awal sebesar Rp40 triliun untuk pengembangan industri pengolahan kelapa, kakao, mente, dan kopi.

Ia menargetkan peningkatan nilai ekspor dari Rp20 triliun menjadi Rp2.000 triliun apabila proses pengolahan dilakukan di dalam negeri.

“Kita harus berhenti menjadi penonton. Komoditas unggulan kita harus diolah dan dipasarkan oleh anak bangsa sendiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Amran juga memaparkan bahwa sektor pertanian saat ini merupakan penyumbang pertumbuhan ekonomi nasional terbesar, yakni 10,52%. Ia menyebut hal tersebut sebagai indikator ketahanan sektor pertanian di tengah krisis global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 19,41% tenaga kerja di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2024, menjadikannya sektor penyerap tenaga kerja terbesar kedua setelah perdagangan.

Amran turut menekankan pentingnya transformasi pertanian berbasis teknologi tinggi, termasuk pemanfaatan drone, alat tanam otomatis, dan digitalisasi sistem pertanian. DIY disebutnya sebagai role model nasional dalam pertanian modern.

“Dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah, ditambah dukungan tokoh-tokoh seperti Pak Sultan dan kepala daerah seperti Bupati Bone, saya yakin Indonesia akan menjadi negara superpower di bidang pertanian,” pungkas Amran.

(ril)*