PILARMEDIA.ID, BONE – Rangkaian lawatan ziarah dalam peringatan Hari Jadi Bone ke-696 terus berlanjut. Setelah mengunjungi Situs Manurunge ri Matajang, rombongan Pemerintah Kabupaten Bone melanjutkan ziarah ke makam Raja Bone ke-II, La Ummasa Petta Panre BessiE, Rabu (1/4/2026).
Ziarah tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., yang didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone, Maryam Andi Asman. Kegiatan berlangsung di kawasan Jl. Ahmad Yani, Watampone, Kecamatan Tanete Riattang Barat.
La Ummasa Petta Panre BessiE dikenal sebagai Raja Bone ke-II yang memiliki peran penting dalam melanjutkan tonggak awal pemerintahan Kerajaan Bone. Ia merupakan putra dari Raja Bone pertama, Mata Silompoe atau Manurunge ri Matajang, yang diyakini sebagai sosok awal terbentuknya kerajaan Bone.
Dalam catatan sejarah, La Ummasa memerintah sekitar abad ke-14, melanjutkan kepemimpinan ayahnya dan memperkuat fondasi pemerintahan serta tatanan sosial masyarakat Bone pada masa awal kerajaan. Kepemimpinannya menjadi bagian penting dalam kesinambungan sejarah Bone hingga berkembang seperti saat ini.
Dalam arahannya, Bupati Bone menyampaikan harapannya agar peringatan Hari Jadi Bone ke depan dapat dikemas lebih meriah dan sarat nilai budaya lokal.
Ia mengusulkan agar perayaan diwarnai dengan alunan gendrang Bali Sumange’ yang dipadukan dengan lantunan anak beccing, serta iringan kendaraan yang dihias sesuai filosofi budaya Bone.
“Ke depan, kita harapkan perayaan Hari Jadi Bone bisa lebih semarak dengan menghadirkan nuansa budaya, seperti gendrang Bali Sumange’ dan anak beccing. Kendaraan juga bisa dihias sesuai filosofi daerah kita, lalu diarak ke setiap makam raja yang kita ziarahi,” ujarnya.
Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya akan menambah kemeriahan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mengenal sejarah dan nilai-nilai budaya Bone.
Ziarah makam para raja ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Hari Jadi Bone, sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur sekaligus upaya memperkuat identitas sejarah dan budaya daerah. (z/a)*






