banner 728x250

Kolaborasi Pemkab Bone dan CIFOR-ICRAF Hasilkan Kurikulum Inovatif Berbasis Pangan Lokal

PILARMEDIA.ID, BONE – Pemerintah Kabupaten Bone resmi meluncurkan kurikulum muatan lokal (mulok) bertajuk Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama. Peluncuran dilaksanakan di Watampone.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kab. Bone Andi Fajaruddin berlangsung di Aula Lamellong,  Kantor Dinas Pendidikan, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Kelurahan Biru, Kec. Tanete Riattang, Kab. Bone, Rabu (23/07/2025),

Peluncuran kurikulum ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dan CIFOR-ICRAF Indonesia, melalui program riset-aksi Land4Lives yang didukung oleh Pemerintah Kanada. Dinas Pendidikan membentuk tim pengembang kurikulum yang terdiri dari unsur pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, serta perwakilan CIFOR-ICRAF Indonesia.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Andi Akmal menyampaikan syukur karena Kabupaten Bone menjadi pilihan Kerjasama CIFOR-ICRAF Indonesia, melalui program riset-aksi Land4Lives di Sulawesi selatan.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bone, bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, kami menyampaikan rasa bangga dan terima kasih. Kami bersyukur karena Kabupaten Bone menjadi satu-satunya daerah di Sulawesi Selatan yang menjalin kerja sama dengan lembaga penelitian kelas dunia” Ucap Wabup Andi Akmal.

Menurutnya, ketersediaan pangan tidak hanya soal mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi utama ketahanan nasional.

“Program ini sangat penting bagi ketahanan pangan dan juga ketahanan iklim kita saat ini. Apalagi pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo dan Menteri Pertanian tengah giat-giatnya membangun sektor pangan, karena pangan memiliki pengaruh besar terhadap ketahanan suatu negara. Sebagus apapun teknologi dan secanggih apapun persenjataan yang kita miliki, jika masyarakat tidak memiliki akses terhadap pangan, maka semuanya menjadi sia-sia. Di sinilah sebenarnya letak keunggulan komparatif negara kita sebagai negara agraris dengan potensi pertanian yang sangat luas. Potensi ini harus kita jadikan modal utama untuk kemajuan ke depan.” Jelasnya

Arizka Mufida, Research Delivery Team Coordinator CIFOR-ICRAF Indonesia, menyampaikan bahwa integrasi pangan lokal dalam kurikulum formal merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memengaruhi produksi dan distribusi pangan.

“Kurangnya pengetahuan tentang potensi pangan lokal menjadi salah satu hambatan ketahanan pangan nasional. Padahal, Indonesia sangat kaya akan sumber pangan alternatif,” ungkap Arizka.

Ia menambahkan bahwa kurikulum ini juga menjadi media pelestarian budaya dan identitas lokal, karena selama ini banyak pengetahuan tentang pangan lokal diwariskan secara lisan dan rawan hilang. Dengan masuk ke dalam kurikulum, pengetahuan ini akan lebih terdokumentasi dan lestari.

Saat ini, kurikulum Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim masih memerlukan payung hukum dalam bentuk peraturan bupati agar dapat diterapkan secara menyeluruh di seluruh SD dan SMP di Kabupaten Bone.

“Kami berharap dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dapat segera terwujud agar implementasi kurikulum ini bisa berjalan maksimal,” tutup Arizka.

Sejak Februari 2024, tim telah menyusun dokumen kurikulum lengkap yang mencakup Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), perangkat ajar, serta bahan ajar untuk guru. Kurikulum ini diuji coba pada November 2024 di 31 sekolah di Kabupaten Bone, dan hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap isu pangan lokal dan perubahan iklim.

Tidak hanya itu, sejumlah sekolah mulai mengembangkan kebun pangan di lingkungan sekolah sebagai laboratorium hidup bagi siswa, sekaligus mendukung praktik pembelajaran kontekstual. Siswa juga mendorong dampak lanjutan dengan menyampaikan pengetahuan yang mereka pelajari kepada orang tua di rumah, sehingga kesadaran gizi turut meningkat di tingkat keluarga.(*)