SENGKANG – Pasar Sentral Sengkang telah lama menjadi salah satu pusat perdagangan dan perputaran ekonomi terbesar di Kabupaten Wajo.
Setiap hari, kawasan ini menjadi tempat bertemunya pedagang, pelaku UMKM, distributor, hingga masyarakat dari berbagai wilayah yang melakukan aktivitas jual beli.
Posisi strategis tersebut menjadikan Pasar Sentral bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Seiring perkembangan zaman dan perubahan kebutuhan masyarakat, kawasan Pasar Sentral dinilai memiliki potensi untuk terus dikembangkan agar tetap relevan, nyaman, dan mampu memberikan nilai tambah bagi para pedagang maupun pengunjung.
Berangkat dari semangat tersebut, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Wajo bersama ICCN Wajo (Wajo Creative Ecosystem) menggelar pertemuan awal untuk membahas berbagai gagasan pengembangan Kawasan Ekonomi Produktif Pasar Sentral Sengkang, Selasa (9/6/2026)
Gagasan awal ini sebelumnya telah dibahas oleh Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Wajo melalui dialog langsung dengan sejumlah pedagang di Pasar Sentral Sengkang.
Berbagai masukan, harapan dan pandangan yang disampaikan pedagang kemudian menjadi salah satu bahan diskusi dalam pertemuan bersama ICCN Wajo untuk melihat berbagai kemungkinan pengembangan kawasan ke depan.
Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Perindagkop & UKM H. Ahmad Jahran, Sekretaris Dinas Andi Muhammad Subhan Amin serta Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan UMKM Budhi Kesumawaty Tachjar.
Hadir pula Koordinator ICCN Wajo sekaligus Ketua Umum Wajo Creative Ecosystem Alifian Kusuma, Sekretaris Umum Andi Muh.Wahyuddin dan Bendahara Umum Andi Faisal Jumardin.
Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk melihat berbagai potensi yang dimiliki kawasan Pasar Sentral sekaligus membuka ruang diskusi terhadap berbagai kemungkinan pengembangan yang dapat dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Dalam diskusi yang berlangsung, sejumlah ide awal mulai mengemuka. Di antaranya penguatan identitas visual kawasan melalui penggunaan aksara Lontara untuk branding penamaan toko-toko dan juga pada berbagai elemen kawasan, penataan fasilitas publik yang memiliki ciri khas lokal, hingga kemungkinan menghadirkan landmark atau titik ikonik yang dapat memperkuat identitas Pasar Sentral Sengkang.
Selain itu, turut dibahas berbagai kemungkinan penataan kabel yang membentang disekitar kawasan, lalu lintas dan parkir yang lebih tertata, peningkatan kenyamanan serta keselamatan pejalan kaki, peningkatan pengolahan dan penyediaan tempat sampah, pengembangan koridor kuliner yang memberi ruang lebih luas bagi UMKM lokal, pemanfaatan media sosial dan media publik untuk promosi kawasan, hingga peluang kolaborasi dengan perusahaan maupun badan usaha melalui program CSR, sponsorship, dan bentuk kerja sama lainnya yang dapat mendukung pengembangan kawasan.
Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Wajo, H. Ahmad Jahran, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terbuka terhadap berbagai gagasan dan kolaborasi yang dapat memberikan dampak positif bagi kawasan perdagangan di Wajo.
“Yang terpenting adalah bagaimana pengembangan kawasan ini nantinya dapat memberikan manfaat bagi pedagang, UMKM dan masyarakat. Karena itu diperlukan proses pembahasan yang matang serta dukungan dari berbagai pihak agar setiap langkah yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan kawasan. Pasar Sentral adalah milik kita bersama. Karena itu setiap gagasan yang muncul perlu dibahas bersama, terutama dengan para pedagang yang setiap hari beraktivitas di kawasan ini. Harapannya tentu sederhana, bagaimana Pasar Sentral Sengkang bisa menjadi lebih tertata, lebih nyaman dan semakin mendukung aktivitas ekonomi masyarakat ditengah perkembangan zaman,” jelasnya.
Sementara itu Koordinator ICCN Wajo, Alifian Kusuma, mengatakan bahwa Pasar Sentral Sengkang memiliki modal yang kuat untuk terus berkembang karena aktivitas ekonominya sudah terbentuk dan hidup secara alami selama bertahun-tahun.
“Tahap saat ini masih sebatas diskusi dan pertukaran ide. Kami mencoba melihat berbagai potensi yang ada, mempelajari kebutuhan kawasan, serta mencari kemungkinan program yang realistis untuk dikembangkan secara bertahap karena Pasar Sentral merupakan salah satu aset ekonomi yang sangat penting dan berdampak keberbagai sektor ekonomi masyarakat diKabupaten Wajo. Aktivitas perdagangan sudah berjalan dan tumbuh dengan baik dan itu perlu kita jaga dan kembangkan bersama. Yang sedang kita diskusikan saat ini adalah bagaimana kawasan ini bisa menjadi lebih berkembang, lebih nyaman, lebih tertata dan memiliki identitas yang semakin kuat tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai pusat perdagangan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu Bendahara Umum Wajo Creative Ecosystem, Andi Faisal Jumardin mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan seperti ini tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan proses yang bertahap.
“Pengembangan kawasan bukan sesuatu yang bisa langsung diselesaikan sekaligus. Justru pendekatan yang lebih memungkinkan adalah memulai dari area atau program yang paling siap terlebih dahulu. Dari situ kita bisa melihat respons masyarakat, mendengar masukan pedagang, mengukur dampaknya, lalu menjadikannya bahan evaluasi untuk langkah berikutnya,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Perindagkop dan UKM bersama ICCN Wajo berencana mengagendakan Focus Group Discussion (FGD) yang akan melibatkan para pedagang Pasar Sentral Sengkang, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperdalam pembahasan, menghimpun masukan secara langsung serta menyusun langkah-langkah yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan kawasan.
Melalui proses diskusi yang terbuka dan kolaboratif ini, Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Wajo bersama ICCN Wajo berharap berbagai gagasan yang sedang dirumuskan dapat menjadi langkah awal untuk menjaga dan memperkuat peran Pasar Sentral Sengkang sebagai salah satu pusat ekonomi utama Kabupaten Wajo, sehingga tetap hidup, berkembang, dan mampu menjawab tantangan masa depan tanpa kehilangan identitas lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Wajo.
Ada berbagai daerah di Indonesia yang berhasil mengembangkan kawasan perdagangan dan ruang publik menjadi daya tarik ekonomi baru tanpa menghilangkan fungsi utamanya.
Beberapa contoh yang sering menjadi rujukan antara lain Jalan Malioboro di Yogyakarta, Jalan Braga di Bandung, Kota Lama Semarang di Semarang, Kawasan Sudirman di Palembang, serta Pantai Losari di Makassar yang berhasil menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus ruang publik yang hidup.
*KSL








